Menu
Catch The Dream

Kisah Rizal Ramli “Rajawali Ngepret”, Hopeng Luhut Pandjaitan

  • Bagikan
RIzal Ramli
RIzal Ramli berpidato dalam sebuah acara (X/Rizal Ramli)

GROOVE.CO.ID, Jakarta– Ekonom senior Rizal Ramli wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Selasa (2/1/2024) setelah dirawat selama hampir 2 bulan.

Doktor ekonomi lulusan Boston University, Amerika Serikat itu mengidap kanker pankreas stadium 4. Ia terakhir kali tampil di depan publik saat perayaan ulang tahun Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. 

Momen tersebut  berlangsung pada 28 September 2023 lalu di Samisara Grand Ballroom, Sopo Del Tower Jakarta. “Makasih, Pak Rizal, anda datang juga walau kita (sering) berkelahi,” ucap Luhut kala itu yang disambut tawa dan tepuk tangan tamu undangan.

Dalam laporan Majalah Tempo, mantan Menteri Perhubungan 2007-2009, Jusman Syafii Djamal menyebut Rizal adalah hopeng lama Luhut. Dalam bahasa Tionghoa, hopeng berarti teman baik atau sahabat. 

“Rizal Ramli termasuk hopeng-nya. Hopeng itu sebutan Pak Luhut untuk kawan lamanya,” ujar Jusman. Jusman adalah kolega Luhut dan Rizal. Jusman pernah menjadi Presiden Komisaris PT Toba Sejahtera, perusahaan yang didirikan Luhut Pandjaitan.

Menurut Jusman, jejak pertemanan Rizal dan Luhut dimulai pada era 1970-an. Saat itu baik Rizal dan Jusman sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Rizal dan Jusman satu angkatan dengan adik ipar Luhut, Ucok Batara.

Ucok pula yang membuat Luhut kenal dengan jaringan mahasiswa dan aktivis kampus. Keakraban keluarga Luhut dan Rizal juga terjalin di Amerika Serikat pada 1988-1989. Saat tinggal di Boston, istri Rizal, Herawati Moelyono berkawan karib dengan adik kandung Luhut, Nurmala Kartini Pandjaitan-Syahrir.

Kartini dan Herawati juga bekerja sama mendirikan Yayasan Kebun Binatang Ragunan. Pulang dari Boston, Rizal kembali dekat dengan Luhut yang kala itu menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri.

Baca juga :  Siap-siap! Pendaftaran CPNS 2023 Dibuka 20 September Jam 23.09 WIB

Perjumpaan mereka di pemerintahan terjadi di Kabinet Persatuan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saat itu, Rizal menjabat Menteri Koordinator Perekonomian lalu Menteri Keuangan. Adapun Luhut menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

“Kami ini orangnya Gus Dur semua. Istilah saya sama teman-teman NU, kalau keadaan biasa-biasa saja, kami enggak diperlukan. Kalau sudah krisis, baru butuh orangnya Gus Dur buat beresin,” ujar Rizal pada Majalah Tempo.

Duet ini kembali bertemu pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Saat Jokowi mengocok ulang kabinet pada 12 Agustus 2015, Rizal ditunjuk menggantikan Indroyono Soesilo sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman. Sedangkan Luhut menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

Masuknya Rizal Ramli bergabung dengan Kabinet Jokowi disebut tak lepas dari peran Luhut Pandjaitan. Rizal pun mengakui hal tersebut. “Pak Luhut meng-endorse. Yang lain ada, enggak usah disebut namanya,” ujarnya.

Dalam hitungan hari, Rizal langsung “berulah” di kabinet. Pria kelahiran Padang 10 Desember 1954 itu menyampaikan kritik secara terbuka pada program pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt yang menyerempet Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Mantan aktivis itu langsung menguliti program megaproyek tersebut dengan sebutan ambisius dan sulit diwujudkan.  Rizal menamai tindakannya itu dengan jurus “Rajawali Ngepret”. “Ini jurus shock therapy untuk transformasi dan revolusi mental,” jelas Rizal dikutip dari Majalah Detik.

   

Baca juga berita kami di:

icon google news icon telegram

Download Aplikasi :

icon playstore
  • Bagikan