Menu
Catch The Dream

[KOLOM] Krisis Partai Politik

  • Bagikan
Politik Indonesia
Image by <a href="https://pixabay.com/users/905513-905513/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=1327276">905513</a> from <a href="https://pixabay.com//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=1327276">Pixabay</a>

GROOVE.CO.ID  – Menurut Mahatma Gandhi, salah satu dosa sosial adalah berpolitik tanpa prinsip.

Artinya berpolitik tanpa dasar nilai yang dipegang teguh. Sebut saja nilai keadilan, kemanusiaan, kejujuran, dan lain sebagainya.

Jenis manusia seperti itu dalam politik tidak layak disebut sebagai manusia politik, manusia yang berkearifan atau berkebajikan.

Mereka itu hanya layak disebut sebagai politikus, yaitu mereka yang berpolitik hanya untuk mempolitisir keadaan demi kepentingan dirinya, keluarganya, atau kelompoknya semata.

Hanya demi kepentingan kekuasaan semata mata.

Berbeda halnya dengan manusia politik ( zoon politicon) atau politisi, manusia politik atau politisi sejati adalah mereka yang berpolitik dengan landasan platform nilai dan dipraktekkan sebagai prinsip.

Nilai nilai itu diakui lalu diinternalisasi dalam dirinya sebagai katalis penting untuk mencapai kebajikan umum. Untuk tujuan penting bagi pencapaian kepentingan bersama ( bonum commune).

Sebut misalnya cita cita keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Dalam konteks kehidupan politik praktis,politik elektoral kita, jenis politikus ini rupanya lebih mendominasi ketimbang politisi sejati.

Mereka tidak lagi pentingkan apakah platform dari partai itu, apakah cita cita ideologi dari partai yang akan diperjuangkan.

Bagi mereka partai adalah hanya semata dianggap sebagai kendaraan politik untuk mengantarnya dalam meraih kekuasaan.

Berpindah partai atau menbangun koalisi antar-partai untuk tujuan kepentingan meraih kekuasaan dianggap lebih penting daripada kepentingan bagi cita cita partai dalam kontek perjuangan ideologis.

Dalam saat tertentu, atau untuk kepentingan kampanye dalam proses politik elektoral, jargon jargon politik diproduksi.

Mereka bisa saja berpidato berbuih buih soal nasionalisme, keadilan, demokrasi, kemandirian, kesejahteraan.

Tapi semua itu berkebalikan dengan isi hatinya, dan juga tindakannya. Semua tuna makna.

Dampak dari semua itu adalah, ketika kekuasaan berada ditangan individu seperti politikus semacam itu maka rakyat adalah hanya jadi perkakas, jadi alat bagi kepentingan pelanggengan kekuasaannya.

Baca juga :  Wacana Duet Prabowo-Ganjar, Megawati: Saya Sampai Bingung

Baca juga berita kami di:

icon google news icon telegram

Download Aplikasi :

icon playstore
  • Bagikan